C. Chatting dalam Teori Konsumsi
Ketika kita membeli handphone, pasti sebelumnya ada pertanyaan yang terlintas mengapa membeli handphone tersebut? Dan jawabannya akan berbeda-beda ada yang mengatakan fiturnya bagus, membutuhkannya untuk internetan di hotspot, untuk keren-kerenan, bentuknya keren atau bahkan ada yang mengatakan karena ikut-ikutan temannya Satu handphone berjuta jawaban. Intinya anda membeli barang tersebut untuk memenuhi kebutuhan anda. Kepuasan yang dihasilkan dari barang tersebut juga bermacam-macam tergantung siapa yang menggunakannya.
Globalisasi sendiri telah menciptakan konsumerisme akibat dari masuknya produk-produk barat yang disinyalir merupakan perwujudan gaya hidup modern. Konsumerisme bukanlah semata-mata karena perilaku yang merupakan keputusan sadar bagi individu namun juga dilihat dari kerangkan perubahan budaya masyarakat, dimana hal itu merupakan representasi masyarakat yang terdongkrak menjadi kelas menengah. Kelompok masyarakat ini membutuhkan alat ekspresi dan cara komunikasi yang baru yaitu dengan menggunakan symbol-symbol pencitraan diri yaitu dengan menggunakan merek-merek terkenal. Disini fungsi konsumsi berubah dari yang dulunya merupakan kebutuhan dasar menjadi konsumsi yang bermakna symbolis. Perubahan ekonomi dan globalisasi mau tak mau akan menghasilkan perubahan semacam itu. Kekuatan global saat ini berubah bentuk menjadi wajah menarik, yaitu pola hidup modern yang diwujudkan dengan budaya konsumtif, pergaulan bebas, hedonistik, dan individualis, membawa masyarakat terlena dan tidak terasa bahwa dirinya sedang mengalami penjajahan
Akhirnya masyarakat modern telah menjelma menjadi masyarakat semu, yang tidak dapat dipisahkan dengan perkembangan kapitalisme dalam ekonomi, yang membangun produk berdasarkan perbedaan produk dan gaya hidup. Dalam perekembangan kapitalisme Boudrillard melihat bahwa penggunaan ruang didominasi oleh proses-proses konsumerisme
McLuhan dalm bukunya Understanding Media, The Extensions of Man yang ditulis pada tahun 1964 dimana pada dekade awal perekmbangan televisi dan komputer, berpandangan bahwa perkembangan teknologi informasi khususnya televisi dan komputer telah memungkinkan manusia hidup dalam dunia yang disebut “Global Village” dunia yang tak lebih besar dari sebuah layar kaca. Karena dapat disiarkan kembali segala bentuk informasi melalui media tersbut. Inilah awal dari dunia Hypereal yang digambarkan Baudrillard
Mengadopsi pemikiran McLuhan, jean Baudrillard berpandangan bahwa perkembangan teknologi tidak saja memperpanjang badan atau saraf manusia bahkan mampu menghasilkan duplikat manusia: mampu menyulap fantasi, halusinasi, ilusi atau science fiction manjadi nyata: mampu mereproduksi masa lalu dan nostalgia: mampu melipat-lipat dunia sehingga tak lebih dari sebuah layar kaca. Bagi Boudrillard kebudayaan dewasa ini mengikuti salah satu model produksi yang disebut “simulasi” yaitu penciptaan model-model nyata yang tanpa realitas atau asal usul – hiperelialiatas melalui model tersebut manusia terjebak pada satu ruang yang mirip suatu bentuk yang nyata padahal itu merupakan kebohongan atau semu. Dalam dunia simulasi manusia yang menghuni ruang tersebut mengami kesadaran tipis antara semu dan nyata atau yang benar dan palsu. Sehingga manusia hidup dalam ruang khayali dan nyata yang menawarkan informasi dan membentuk sikap dan gaya hidup manusia.
Dalam pandangan dua pemikir diatas melihat ketidak terpisahan antara perkembangan sains dan teknologi, penggunaan ruang dan waktu dalam kapitalisme barat. Konsep “kemajuan” yang melandasi perkembangan masyarakat kapitalis modern menuntut penakluan ruang serta “penghancuran ruang melalui waktu” yang akhirnya merubah dunai seperti yang dikatan McLuhan sebagai “global Village”
Dalam perekembangan kapitalisme Boudrillard melihat bahwa penggunaan ruang didominasi oleh proses-proses konsumerisme. Penaklukan ruang oleh kapitalisme menjadi unsur penting dalam konsumerisme yang dijadikan komuditas. Konsumerisme menjadikan masyarakat dunia seperti yang dikatakan oelh Bourillard sebagai “ruang simulacrum” yaitu ruang yang disarati dengan duplikasi atau daur ulang berbagai fragmen dunia yang berbeda-beda dalam satu ruang dan waktu yang sama- ruang yang memungkinkan chatter mahasiswa melakukan komunikasi dua arah atau lebih untuk mengetahui berita terhangat.
Setelah ruang dapat ditaklukan oleh waktu. Unsur berikutnya adalah “kecepatan” yang menjadi penting bagi budaya konsumerisme. Paul Virillo seorang kritikus Italia mengungkapkan “kecepatan” dalam kapitalisme tidak semata-mata fenomena sosial dan ekonomi namun politik dan juga estetika. Manusia direpresentasikan eksodus dan tamasya dalam kecepatan tinggi menjelajahi ruang nihilisme dan fatalisme pencitraan melalui seperangkat media kecepatan. Totalitas hidup manusia berlalu dalam wacana penjelajahan kecepatan yang tidak disadarinya. Bermain dengan kecepatan merupakan ekstase yang gunanya tidak perlu dipikirkan lagi. Produk-produk yang ditawarkan di media baik cetak maupun elektroik mengalir dalam kecepatan yang tinggi membawa konsumen kedalam satu penjelajahan menembus kecepatan yang tak seorang pun dapat mencegahnya.
Menurut Virilio kapitalisme pada tingkatannya yang advanced sekarang ini, pada hakekatnya tak lebih sebuah panggung tempat drama “kecepatan” dipertunjukkan. Tak pelak dia menyindir masyarakt kapitalis barat sebagai masyarakat yang hidup dalam ruang “epilepsi” yaitu ruang yang disarati oleh Paul Virilio, The Aesthetics of Dissappearance (New York; Simiotex, 1991, hal 86) “...kejutan-kejutan dan frekuensi-frekuensi yang fariasinya tak terduga, yang tidak lagi berkaitan dengan tekanan dan dan represi akan tetapi dengan interupsi (melalui percepatan), muncul dan menghilangakn dunia riil”
Apa Itu Chatting ??
Sebuah konsep yang dihadirkan mengenai chatting via Hp sebenarnya tidak akan berbeda jauh ketika kita ber SMS. Namun disini chatting menawarkan kelebihan karena dapat digunakan untuk komunikasi dua arah dengan beberapa orang sekaligus dimana mereka otomatis dapat langsung mengetahui informasi yang diberikan karena dalam keadaan online. Dengan Chatting kita akan dapat mengenal orang dari berbagai belahan dunia. Selain make a relation baik dalam persahabatan, atau pacaran 85 % menganggap itu suatu bentuk hiburan pelepas strees setalah disibukkan dengan rutinitas perkuliahan atau kegiatan lainnya. Namun apakah benar itu adalah bentuk hiburan?... tak kala mereka mereka membutuhkan waktu berjam-jam dengan memelototi layar handphoene untuk berchatting ria.
Ruang Dan Waktu
Chatting membuat dunia hanya selebar layar HP yang dapat digenggam dengan mudah. Ruang dan waktu seakan begitu dekat dengan kecepatannya yang ibarat hanya dengan duduk saja orang bisa sampai ke berbagai belahan dunia untuk bertemu dengan berbagai macam karakter orang. Dalam perekembangan kapitalisme Boudrillard melihat bahwa penggunaan ruang didominasi oleh proses-proses konsumerisme. Setiap orang perlu membeli Hp canggih padahal mereka tahu bahwa mereka tidak tahu untuk apa informasi tersebut. Dengan menyitir pendapat dari McLuhan memang tepat rasanya dengan chatting konsep “global Vilage” bukan merupakan suatu perkataan yang utopis belaka.
“Ruang simullacrum” yang oleh Boudrillard sebagai tempat yaitu ruang yang disarati dengan duplikasi atau daur ulang berbagai fragmen dunia yang berbeda-beda baik itu berbentuk bahasa, symbol dalam tulisan, penulisan, dll yang dilebur dalam satu ruang dan waktu dengan kecepatannya yang dapat secara langsung mengabarkan informasi kepada netter. Dalam dunia simulasi manusia yang menghuni ruang tersebut mengami kesadaran tipis antara semu dan nyata atau yang benar dan palsu. Disini manusia bahkan sudah tidak dapat lagi mengetahui mana yang nyata dan khayal. Chatting yang merupakan dunia semu, ruang dan waktu juga telah membuat kekaburan dan kebohongan mengenai identitas penggunanya sehingga tak jarang banyak sekali penipuan-penipuan yang dilakukan di dalam dunia seperti ini. Boudrillard mendiskripsikan dengan hancurnya sekat-sekat yang ia sebut dengan ”impolsion” antara media dan dunia sosial sehingga berita dan hiburan melebur menjadi satu sama lain.
Disinilah peran kapitalis telah berhasil dalam menjarah kesadaran manusia yang dicekcoki produk yang bernama chatting. Hampir selama 3 sampai 5 jam informan melakukan kegiatan tersebut, jika dilihat berapa besar jika dalam 1 jam mengahabiskan kurang lebih Rp. 300,00 coba kalo dikali dengan 5 jam belum lagi jika dikali seminggu. Sudah berapa banyak uang dan waktu yang dihabiskan untuk kegiatan chatting tersebut. Meskipun menurut mereka chatting lebih murah daripada ber SMS tapi kalau dilihat berapa kalkulasi biaya yang dikeluarkan chatting mungkin akan lebih boros. Itulah yang dibidik oleh kaum kapitalis suatu bentuk penghemonian alam bawah sadar kita.
D. Sebuah Gaya Hidup Baru
Gaya visual dapat mengacu dengan gaya hidup, Alfin Toffler mengatakan gaya adalah “alat yang dipakai oleh individu untuk menunjukkan identifikasi mereka dengan subkultur-subkultur tertentu. Setiap gaya hidup disusun dari mozaik beberapa item, yaitu supr product yang menyediakan cara mengorganisir produk dan ide . gaya hidup memang menawarkan rasa identitas dan sekaligus alat untuk menghindari kebingungan karena banyaknya pilihan. Dunia cyberspace meengajari masyarakat untuk memperbarui citra dirinya karena hal itu merupakan salah satu cara untuk bersosialisasi. Fungsi perangkat elektronik yang berkaitan dengan komunikasi menjadi sangat penting. Percepatan adalah solusi yang ditawarkan kapitalisme dimana produk datang dan menghilang dengan cepat yang memacu masyarakat untuk cepat bosan sehingga menciptakan hasrat untuk memprbarui citra diri.
Aldin dan Subaldy (2000: 165) mengemukakan gaya merupakan wahana ekspresi dalam kelompok yang mencampurkan nilai-nilai tertentu dari agama, sosial, dan kehidupan moral melalui bentuk-bentuk yang mencerminkan perasaan. Dalam abad ke-21 telah menjamur berbagai industri modern diantaranya yaitu industri muda atau fashion, industri kecantikan, industri kuliner, pusat perbelanjaan, apartemen real estate, makanan serba instan, telepon seluler, industri iklan serta televisi, industri-industri yang modern tersebut akan menyebabkan banyak masyarakat mementingkan gaya daripada isi ataupun fungsinya.
Dalam ilmu antropologi gaya hidup didefinisikan sebagai pola tingkah laku sehari-hari segolongan manusia dalam masyarakat yang dapat diamati dan yang memberikan identitas khusus pada golongan itu (Suyono, 1985) sedangkan menurut Chaney (1996: 50) gaya hidup merupakan cara kehidupan yang khas, yang dijalankan bersama oleh kelompok tertentu dalam masyarakat sehingga menjadi ciri khas kelompok tersebut dan oleh karena itu dapat dikenali.
Gaya hidup adalah perilaku seseorang yang ditunjukkan dalam aktivitas minat dan opini khususnya yang berkaitan dengan citra diri untuk merefleksikan status sosialnya, gaya hidup merupakan frame of reference (bingkai) yang dipakai seseorang dalam tingkah laku dan konsekuensinya akan membentuk pola perilaku tertentu. Terutama bagaimana dia ingin dipersepsikan oleh mata orang lain.
Gaya hidup sangat berkaitan dengan bagaimana ia membentuk image di mata orang lain, berkaitan dengan status sosialnya yang disandangnya untuk merefleksikan image inilah dibutuhkan simbol-simbol status tertentu, yang sangat berperan dalam perilaku konsumsinya (Setyo, 2004). Menurut Chaney (1996: 167) ada tiga hal yang menjadi karakteristik gaya hidup. Karakteristik tersebut yaitu:
a. Tampilan luar
Penampilan luar dari benda-benda, orang, ataupun aktivitas menjadi aspek penting dalam masyarakat. Perkembangan modernisasi yang berupa teknologi dan televisi telah memunculkan iklan sebagai masyarakat lebih mementingkan kemasan luarnya saja dari pada fungsi atau manfaatnya. Industri periklanan menampilkan label, logo dan slogan yang sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat sehari-hari. Misalkan saja terdapat iklan produk pakaian menampilkan citraan eksklusif, modis, dan berjiwa
muda. Fungsi utama pakaian yaitu menutupi badan dibiarkan saja karena masyarakat akan memburu pakaian tersebut karena bisa eksklusif modis dan berjiwa muda.
b. Diri dan identitas
Semua sifat dan kualitas diri setiap individu merupakan sebuah identitas baginya. Misalnya saja seorang atlet mempunyai kebiasaan mengonsumsi makanan sehat, olah raga teratur dan cukup tidur. Sehingga dengan kata lain bahwa identitas sebagai seorang atlet dituntut untuk selalu mempunyai pola hidup sehat.
c. Fokus perhatian yang berulang-ulang
Cara-cara yang diterima oleh suatu kelompok bisa dikenali melalui ide-ide, nilai-nilai, cita rasa, musik, makanan, pakaian dan lain-lain. Namun demikian sifatnya tidak mutlak atau bisa berubah-ubah, terutama menyangkut gender dan subkultur dalam suatu masyarakat. Misalnya celana jeans yang dahulu hanya dipakai oleh laki-laki saja maka sekarang seiring berkembangnya zaman, para wanitapun telah memakainya juga. Sehingga gaya hidup tersebut dapat senantiasa berubah dan tidak terbatas pada satu zaman saja.
Menurut informan yang berhasil diwawancarai mayoritas mereka menghabiskan 3 – 5 jam berkutat dengan kegiatan yang bernama chatting. Rata-rata mahasiwa ini mulai mengenal chatting sejak usia SMP dan SMA ketika masih booming-boomingya mRCl. Menurut salah satu informan yang berasal dari fakultas teknik Arsitektur ”sampai sekarang saya sudah 5 tahun mengenal chatting dan sudah 2 tahun ini saya mulai mengalihkan fungsi chatting dari PC ke HP karena lebih nyaman” ” saya dapat menambah teman dan memperluas jaringan” katanya ” pertama kali aku mengenalnya ketika SMP dari teman-temank, kemudian jadi dech aku ikut-ikutan kaerena asyik” ” dalam 3 hari aku bisa menghabiskan pulsa sebesar 5000 rupiah hanya untuk chatting” ”sebenarnya memang lumayan boros sich, tapi tak apa2 karena hidupku akan lebih bewarna karena mengenal orang-orang yang berbeda-beda”
Masyarakt konsumen yang lahir beriringan dengan globalisasi dan transformasi yang salah satunya adalah ditandai dengan perkembangan handphone. HP yang dulunya hanya dimiliki kelas atas dalam perekembangannya sekarang ini bukan lagi monopoli suatu kelas. Itu juga yang ada dalam gaya hidup chatting saat ini. Tidak perlu HP mewah untuk melakukannya bahkan hanya Rp 300.000 asal mendukung GPRS sudah dapat melakukan chatting.
Saat ini aplikasi seperti Mxit dan Mig33 masih mempunyai pangsa konsumen terbesar . Selain murah, kita juga dapat menambah banyak teman dari berbagai macam kota yg ada di Indonesia. Kita juga bisa dapat teman dari luar negeri, jika kita dapat mensettingnya secara benar dan tepat. Hikmahnya selain bisa menambah teman, kita juga bisa sharing masalah masing-masing atau cerita-cerita tentang aktivitas yg kita lakukan. Namun demam Facebook yang mewabah saat ini di Indonesia membuat larisnya konsumsi chat melalu eBudy atau Nimbuz karena aplikasi tersebut dapat disetting untuk Facebook.
Dalam karyanya gaya hidup dipahami channey sebagai proyek refleksif dan penggunaan fasilitas konsumen secara kreatif. Tampaknya gaya hidup sudah merupakan proyek yang lebih penting daripada aktivitas waktu luang yang khas, dan Giddens sendiri telah mengingatkan bahwa gagasan gaya hidup sendiri teah dikorupsi oleh konsumerisme. Cara khusus yang dipilih seseorang untuk mengekspresikan diri, tak disangsikan lagi merupakan usaha untuk mengekspresikan gaya hidup. Diasusmsikan oleh Chaney bahwa gaya hidup adalah ciri dunia modern maksudnya adalah siapaun yang hidup dalam masyarakat modern akan menggambarkan tindakan sendiri maupun orang lain. Gaya hidup sendiri menurutnya berfungsi dalam interaksi dengan cara-cara yang mungkin tidak dapat dipahami mereka yang tidak hidup dalam mannusia modern.
Mahasiswa Sebagai Pelaku
Tiap mahasiswa mempunyai identitas sendiri baik itu karakter, sifat, yang ada dalam diri sendiri ataupun identitas yang melekat dalam diri manusia yang berasal dari luar misalnya status sosialnya di mata manusia lain. Perilaku individu dapat dipelajari dengan identitas yang mucul baik itu sifat, sikap, kata-kata (pernyataan) atau perbuatan yang dilakukan mahasiswa. Dengan demikian mahasiswa dengan pendidikan yang dimiliki maka akan memperoleh ruang interaksi dan mobilitas yang luas tidak hanya di dalam kampus namun juga diluar kampusnya. Interaksi dan mobilitas yang dilakukan mahasiswa bisa sebagai bentuk pencarian identitas seseorang mahasiswa. Seiring perkembangan zaman yang ditandai dengan merebaknya berbagai bentuk gaya hidup modern, mahasiswa yang diharapkan mempunyai kemampuan sebagai agent of change tersebut telah banyak berkurang. Mahasiswa datang dari berbagai daerah, kehidupan di kampung asalnya tentu berbeda dengan kehidupan di sekitar kampus yang mayoritas telah terpenuhi oleh fasilitas-fasilitas gaya hidup modern.
Maka mahasiswa yang sudah terlena dengan berbagai fasilitas-fasilitas tersebut akan menjadi individu yang tidak mampu memilih hal-hal yang bermanfaat sehingga senantiasa membeli banyak barang baru untuk mengikuti trend perkembangan zaman. Mahasiswa yang seperti itu akan menjadi mahasiswa yang memiliki gaya hidup konsumtif.
Komunitas Mahasiswa Penghobi Chatting
Menurut Chaney Gaya hidup adalah perilaku seseorang yang ditunjukkan dalam aktivitas minat dan opini khususnya yang berkaitan dengan citra diri untuk merefleksikan status sosialnya, gaya hidup merupakan frame of reference (bingkai) yang dipakai seseorang dalam tingkah laku dan konsekuensinya akan membentuk pola perilaku tertentu. berikut juga yang terjadi pada mahasiswa UNS penghoby chatting via handphone, banyak dari mereka yang mendirikan komunitas akibat dengan seringnya mereka bertemu di dunia maya. Interaksi yang tidak hanya dilakukan lewat dunia maya namun juga dunia nyata. Benar kata Boudillard, memang tipis sekali jika dilihat antara dunia maya dan nyata, begitu mudahnya dijangakau oleh suatu pertemuan. Dari pertemuan-pertemuan itulah akan terlihat dari mana lapisan orang itu berasal yang mana tidak seluruhnya adalah mahasiswa yang memiliki kantong berlebih.
Banyak yang menilai bahwa mereka yang menyukai dunia maya seperti chatting adalah orang yang krisis identitas karena tidak memiliki kepercayaan diri sehingga diekspresikan pada sesuatu yang semu sifatnya. Namun disini penulis melihat ini adalah sebuah gaya hidup baru yang merupakan imbas dari globalisasi yang diwujudkan dengan perkembangan teknologi, dengan campur tangan kapitalis akhirnya tercipta suatu bentuk pencitraan yang bernama chatting. Bahkan banyak dari informan mahasiswa ini yang banyak mengikuti kegiatan di luar bangku kuliah misalnya kerja part time, Unit Kegiatan kampus, dsb chatting sendiri merupakan bagian dari gaya hidup mereka dapat dikatakan disini adalah pelampiasan kejenuhan terhadap aktivitas yang dilakukan dalam dunia nyata sehingga mereka membutuhkan sesuatu yang sifatnya semu untuk menciptakan dunia khayalnya.
Kesimpulan
Dalam masyarakat modern yang menjelma menjadi masyarakat semu, tidak dapat dipisahkan dengan perkembangan kapitalisme dalam ekonomi, tak terkecuali perkembangan teknologi informasi yang menjadi wacana dalam kapitalisme yang membangun produk berdasarkan perbedaan produk dan gaya hidup. Kehidupan mahasiswa penghobi chatting saat ini dilihat sebagai akibat dari bagaimana kebudayaan dan identitas terbentuk dalam globalisasi. Karena globalisasi mampu menyediakan sebuah tempat yang begitu luas bagi pembentukan identitas; sirkulasi tanda maupun simbol dan perpindahan antartempat yang semakin mudah, yang dikombinasikan dengan perkembangan teknologi komunikasi, membuat percampuran dan pertemuan kebudayaan juga semakin mudah.
Dampak “globalisasi” sebagai sebuah gerakan budaya telah menghadirkan perbedaan antara masa lalu dan sekarang. Budaya global ditandai oleh integrasi budaya lokal—yang lebih kecil, contohnya saja adalah budaya mahasiswa—kedalam suatu tatanan global. Nilai-nilai kebudayaan luar yang beragam menjadi basis dalam pembentukan sub-sub kebudayaan yang berdiri sendiri dengan kebebasan-kebebasan ekspresi. Globalisasi yang ditandai oleh perbedaan-perbedaan dalam kehidupan telah mendorong pembentukan definisi baru tentang berbagai hal dan memunculkan praktek kehidupan yang beragam.
Teknologi yang membawa informasi memang membawa perubahan dalam masyarakat mulai dari gaya hidup sampai pola berpikir. Perubahan ini akan terus terjadi sejalan dengan dinamika informasi dan teknologi yang terjadi. Praktek-praktek kultural baru seperti yang tampak dalam gaya hidup dan kebiasaan konsumsi misalnya, kemungkinan besar telah menjauhkan mereka dari nilai-nilai kultural dan etik tradisional. Akibatnya, mereka dianggap hidup dalam kondisi hampa makna dan nilai.
Kondisi yang seperti itu juga tengah dialami mahasiswa penghobi chatting via handphone dengan study kasus di kampus UNS. Chatting telah menjadi kebutuhan tersendiri bahkan laksana kebutuhan primer. Disinilah kapitalis telah berhasil menciptakan produk yang berhasil menguasai kesadaran mereka. Sehingga batas anatara yang sadar dan khayal sedemikian tipis. Ruang dan waktu dalam dunia chatting didesain sedemikian cepat untuk mengabarkan berbagai informasi. Tidak salah apa yang dikatakan bahwa kapitalisme Boudrillard melihat bahwa penggunaan ruang didominasi oleh proses-proses konsumerisme. Konsumerisme sendiri telah membentuk gaya hidup mahasiswa dimana mereka mulai membentuk image di mata orang lain, berkaitan dengan status sosialnya yang disandangnya untuk merefleksikan image inilah dibutuhkan simbol-simbol status tertentu, yang sangat berperan dalam perilaku konsumsinya (Setyo, 2004). Namun chatting melalui hp sendiri bukanlah dominasidari status atas karena hanya dengan Rp. 300.000 yang digunakan untuk membeli HP dengan fasilitas GPRS sudah dapat digunkan untuk chatting. Dalam hal ini sudah terjadi kekaburan antara status atas dan bawah seperti HP (dengan tidak memperhatikan kecanggihannya) sendiri yang saat ini mulai menyentuh seluruh lapisan tanpa terkecuali.
Daftar Pustaka
Adlin, Alfathri. 2006. Resistensi Gaya Hidup : Teori dan Realitas. Yogyakarta: Jalasutra.
BISKOM. Sept 08 th, 2009. Pengguna Nimbuzz Lebih Banyak untuk Chatting di Ponsel
Chaney, David, 1996. Life Styles: Sebuah pengantar komprehensif. Terjemahan
Rouledge. Yogyakarta: Jalasutra.
http://sobatbaru.blogspot.com/2008/04/chatting_dan_pengaruh_bagi_remaja.
Ibrahim, Idi Subandy. 2000 Lifesytle Ecstasy: Kebudayaan Pop dalam Masyarakat
Komoditas Indonesia. Jakarta: Jalasutra.
Liliweri, Alo. 2001. Gatra Gatra Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
MONGGO PINARAK............................
SELAMAT DATANG KAUWANDDDDDDDDD
Tidak ada komentar:
Posting Komentar