Sabtu, 15 Mei 2010

Pendidikan Non Formal dalam Mewujudkan Masyarakat Gemar Belajar

Pendidikan Non Formal, berperan sebagai pendekatan dasar dalam setiap program pengembangan masyarakat dan merupakan bagian penting dari setiap program pengembangan masyarakat pada tingkat lokal, regional dan nasional. Dalam hal ini sasaran perubahan yang ingin dicapai dalam pengembangan masyarakat adalah tumbuhnya masyarakat gemar belajar (learning socienty). Masyarakat gemar belajar mengandung pengertian perubahan dari situasi kehidupan semu (dreaming society) ke arah masyarakat berencana (planning society). Kehidupan yang semu digambarkan oleh Freire (1972) sebagai suasana kehidupan yang merasa tertekan, masa bodoh, tercekam dalam derita kehidupan, dan fatal. Dalam masyarakat ini penduduk tidak dapat berinterkasi positif dengan lingkungannya. Mereka senantiasa menjadi obyek dan bukan subjek pengembangan masyarakat yang ditandai rendahnya tingkat pendidikan, pendapatan, kesehatan, kesempatan kerja dan kesadaran terhadap lingkungan. Sedangakan masyarakat berencana (planning society), menurut Graham (1975), adalah masyarakat yang amat tanggap terhadap perubahan-perubahan yang sedang terjadi dan kemungkinan perubahan yang akan terjadi di masa depan. Masyarakat memiliki kesadaran yang tinggi terhadap lingkungan dan pembangunan masyarakat, bangsa dan negara. Sikap ilmiah dan terbuka, pikiran dan tindakan rasional, toleransi terhadap perbedaan pandangan dan latar belakang kehidupan, serta menitik beratkan segi kemanusiaan mewarnai tingkah laku mereka.
Vembrianto dalam Pendidikan Sosial Jilid Pertama sasaran pendidikan mengklasifisikan dalam enam kategori:
1. Para Buruh dan Petani
Dengan pendidikan yang sangat rendah atau tanpa pendidikan sama sekali merupakan golongan terbesar penduduk di negara-negara yang sedang berkembang, hidup dengan cara-cara tradisional yang masih dikuasai tahayu, tabue atau cara-cara hidup yang menghambat kemajuan (hambatan psikologik). Bagi golongan ini program pendidikan akan mempunyai arti apabila program tersebut:
a) Menolong meningkatkan produktivitas mereka , misal dengan mengajarkan berbagai keterampilan baru melalui pemberian metode baru dallam bertani.
b) Mendidik agar memenuhi kewajiban sebagai kepala negara dan kepala keluarga, sehingga menyadari pentingnya pendidikan bagi anak-anaknya.
c) Memberi jalan untuk mengisi waktu sengganya dengan kegiatan yang produktif
Yang dibutuhkan golongan ini adalah program baca tulis fungsional (functional literacy)
2. Golongan remaja yang terganggu pendidikan sekolahnya
Golongan remaja yang menganggur karena tidak mendapatkan pendidikan ketrmpilan (under employed) karena kurangnya bakat dan kemampuannya, memerlukan pendidikan vokasional yang khusus. Program terpenting bagi golongan ini ialah pendidikan yang bersifat remedial. Mungkin karena meninggalkan pendidikan di sekolah karena tidak tertarik, bosan atau tidak melihat pendidikan sekolah itu bagi kehidupannya, sebab itu program remidial yang diberikan harus dapat menarik, merangsang dan relevan dengan kehidupannya.
3. Para pekerja yang berketrampilan
Golongan ini memerlukan program pendidikan kewargaan negara dan pendidikan untuk pengguna waktu senggang secara produktif. Program yang disediakan baginya harus mengandung dua maksud:
a) Harus mampu menyelamatkan mereka dari bahaya keusangan pengetahuan dan otomasi, kepada mereka perlu diberikan latihan-latihan kembali untuk mendapatkan ketrampilan baru.
b) Program ini harus membuka jalan mereka untuk naik jenjang dalam rangka promosi ke kedudukan yang lebih baik.
Program semacam itu tidak semata-mata bersifat vokasional dan teknik, melainkan peningkatan atas pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki.
4. Golongan technicians dan professionals
Mereka pada umumnya menduduki posisi-posisi penting dalam masyarakat. Kemajuan masyarakat sangat tergantung pada golongan ini. Pada umumnya golongan ini telah memiliki kebiasaan dan motivasi yang kuat dalam self-learning.
5. Para pemimpin dalam masyrakat
Para pemimpin dalam masyarakat (golongan politik, agama, sosial, dsb) perlu selalu memperbarui sikpa dan ide-idenya agar mereka dapat berfungsi memimpin masyarakat, sesuai dengan gerak kemajuan dan pembangunan. Mereka harus mampu mensintesekan pengetahuan dari berbagai macam keakhilan. Kemampuan tersebut tidak pernah diperoleh dari pendidikan sekolah biasa. Sebab itu program pendidikan untuk mencapai hal itu perlu diadakan.
6. Golongan masyarakat yang sudah tua
Dengan bertambah panjangnya rata-rata usia manusia, maka jumlah masyarakat yang lanjut usia menjadi besar. Program pendidikan terlebih-lebih untuk memenuhi dorongannya untuk mengetahui hal-hal yang baru, jadi tidak penting jika dilihat dari kegunaan dan keuntungan materialnya.
Berdasarkan teori kebutuhan Maslow, kebutuhan yang paling dirasakan masyarakat pedesaan di negara-negara berkembang adalah kebutuhan dasar atau fisiologis. Oleh sebab itu, pada taraf pertama, aspek ekonomi inilah yang perlu dijadikan sasaran utama pendidikan luar sekolah sebagai rintisan awal untuk menumbuhkan masyarakat gemar belajar. Pada tahap berikutnya program ini menyangkut pula aspek-aspek kehidupan lainnya.
Kegiatan untuk menumbuhkan masyarakat gemar belajar diawali upaya membelajarkan masyarakat dalam aspek ekonomi sehingga mereka mampu melakukan fungsi penyediaan sarana produksi, produksi barang, dan pemasaran hasil (masyarakat pedesaan). Fungsi-fungsi lain dalam kehidupan masyarakat yang dapat dijadikan sasaran untuk menumbuhkan masyarakat gemar belajar adalah fungsi penampilan diri, pemeliharaan kesehatan, kehidupan berorganisasi, dan perluasan kesempatan belajar.


DAFTAR PUSTAKA

Joesoef, Soelaiman. 1992. Konsep Dasar Pendidikan Luar Sekolah. Surabaya: Bumi Aksara
Sudjana. 1991. Pendidikan Luar Sekolah, Wawasan Sejarah Perkembangan Falsafah dan Teori Pendukung Asas. Bandung: Nusantara Pers
Vembrianto. 1984. Pendidikan Sosial Jilid pertama. Yogyakarta: Paramita



1 komentar: