Rabu, 19 Mei 2010

TARING

Seberapa pantas kau untuk bersemayam dalam lebarnya luka hatiku
Seberapa pantas kau mampu buka jiwa yang tanpa ikatan
Seberapa pantas kau tebar keberingasanmu di depan mataku
Seberapa pantas kau hujam jantungku dengan taringmu
Seberapa pantas kau cabik-cabik hatiku....

Tapi aku salah...
Kau begitu pantas
Noda-noda darah membuncah dalam taringmu
Semakin ternoda semakin tajam taringmu

Aku ingin taringmu tumpul
Mengelinding seperti mutiara
Biar aku saja yang menemukannya
Tidak orang lain, tapi hanya aku...
Karena aku kekasihmu

Kekasih...
Yang selalu kau sakiti dengan taringmu
Yang selalu kau lukai dengan taringmu
Yang selalu kau kuasai dengan taringmu

Kekasih...
Apakah itu sebutan yang pantas untukku dan untukmu?
Tapi aku sungguh kekasihmu
Sungguh...
Aku tak pernah bohong
Aku kekasihmu...
Sekali lagi aku tak pernah bohong
Aku kekasihmu...
Dua kali lagi aku tak pernah bohongg
Aku kekasihmu...
sampai tak terhingga lagi aku tak pernah bohong
Aku tetap kekasihmu...



Surakarta, 15 mei 2010, 23:49
Aku benar-benar kecewa, marah, sungguh emosi yang labil untuk suatu sebab yang kujelaskan lewat puisi diatas. Silakan memahami menurut persepsi masing2 individu ya????

Tidak ada komentar:

Posting Komentar